Widiani Budiarti

Ini anak Budi

Instagram

Jul 7

Ada Apa Dengan Film Indonesia

Published on Thursday, 04 July 2013 12:59Written by Candra Aditya
Bikin film itu susah. No shit. Tapi yang mungkin lo semua gak tau adalah bahwa bikin film di Indonesia jauh lebih susah dari yang lo bayangkan. Indonesia bukan Hollywood yang punya banyak duit. Temen gue pernah bilang ke gue bahwa Indonesia gak bakalan bisa bikin film kayakTransformers. Gue bilang sama dia, apa aja bisa kalo lo punya 3 triliun.
 
Film kita gak ada yang bujetnya sampe 3 triliun. Paling banter kalo dikurs-in ke dollar cuman 4 jutaan dollar. Makanya, bikin film local semuanya harus dilakukan dengan penuh cinta. Berlebihan? Dengerin gue dulu baru lo bakalan ngerti kenapa faktor “cinta” itu penting dalam pembuatan film di sini.
 
Stage 1
 
Syuting film disini gak ada glamor-glamornya. Jangan bayangin kayak film Hollywood. Lo bisa tidur 8 jam sehari selama produksi aja kayaknya udah harus sujud syukur. Jangan harapkan ada AC. Para pemain mungkin bisa kena AC, tapi orang-orang kayak asisten kamera, asisten sutradara bahkan line producer (komandan perang selama produksi) terpaksa harus berpanas-panasan selama… yah, selama produksi berjalan.
 
Di Hollywood mereka punya standar jam kerja. Kayak orang ngantor. Mereka kerja selama kira-kira 8-10 jam sehari. Lebih dari itu diitung lembur. Jadi kalo lo liat production days film kayak Pirates of Caribbean bisa sampe 200 hari itu karena jam kerja mereka emang terbatas. Di sini kita gak punya kemewahan itu. Jadi, kapankah syuting berakhir? Well, kadang kala syuting bisa berjalan sampai dengan 24 jam sehari. Dan ketika lo udah happy syuting mau kelar, lo harus inget bahwa dalam beberapa jam lagi lo harus udah bangun dan syuting lagi. Makanya faktor “cinta” penting banget disini. Kalo lo gak secinta itu bikin film Indonesia, mending jadi dokter gigi aja. Gak bakalan semrawut itu idup lo.
 
 
Stage 2
 
Setelah masa produksi berakhir barulah kita masuk ke post-production. Ini adalah masa dimana film diutak-atik jadi bagus. Di Hollywood mereka punya satu tempat, Indonesia nggak. Kalo lo mau film lo jadinya bagus (dan lo punya kelebihan uang), lo harus ke Thailand untuk mixing sound. Atau ke Australia untuk grading warna. Semua ini membutuhkan uang yang gak dikit.
Mereka ngutak ngatik filmnya sampe yang bikin puas (dan ehm, kadang tergantung faktor duitnya masih ada apa nggak juga sih). Sampe akhirnya produser dan sutradara bilang bahwa filmnya siap edar. Berjalanlah mereka ke sebuah tempat bernama Lembaga Sensor Film (LSF) dan berharap bahwa film mereka gak diperkosa sama LSF. 
 
Mini Boss 
 
Indonesia gak kayak Amerika yang punya Motion Pictures Association of America (MPAA) yang tugasnya adalah mengklasifikasi jenis film. Merekalah yang menentukan apakah Monster University cocok untuk ditonton anak-anak atau khusus dewasa. Sistem ini menjamin film lo gak bakal disunat, tapi bakalan disesuain jenis penontonnya sesuai materi film.
 
Disini, sebagai produser film, lo harus banyak berdoa. Kadang, para penyensor film tidak memiliki cara kerja otak yang logis sama kayak kita. Kadang, mereka bisa terganggu oleh hal-hal yang sebenernya gak ada jorok-joroknya sama sekali. Dan ketika lo mau protes, mereka akan ngasih alasan-alasan kocak kayak “film lo kurang mencerminkan budaya Indonesia” atau semacamnya. Dan karena emang hanya mereka yang menentukan ini semua, lo gak ada pilihan lain kecuali nurut. Atau mungkin ngambek dan pindah ke negara.
 
Final Boss
 
Abis lo dapet keterangan lulus sensor, yang bikin film masih belum bisa nafas lega dulu. Mereka harus menunggu waktu lagi agar filmnya tayang di bioskop. Indonesia gak punya sistem distributor yang ngatur jalannya traffic film di bioskop. Disini lo cuman tinggal ke bioskopnya (dalam kasus ini adalah Cineplex 21 dan Blitzmegaplex) dan minta jadwal tayang. 
Beberapa produser yang handal, bisa dengan mudah minta jadwal tayang yang menguntungkan di minggu-minggu liburan misalnya. Produser yang kurang handal (atau baru), terpaksa harus gigit jari dengan pemilihan jadwal tayang mereka kurang begitu menguntungkan. Kadang mereka terpaksa harus nangis di pojokan begitu tau bahwa film mereka dapat jatah tayang 6-7 bulan kemudian dan harus banget barengan sama film James Bond yang baru. 
 
Kemudian setelah jadwal tayang sudah fix, barulah mereka mulai berdoa tiap hari agar film mereka bisa laku. Jeleknya bioskop di Indonesia (atau minusnya sistem distribusi disini) adalah kenyataan bahwa semua kerja keras lo selama berbulan-bulan bikin film, akan dinilai dalam 3 hari pertama penayangan. Dalam 3 hari itu Cineplex 21 itu akan menilai film lo, apakah film lo cukup layak diperpanjang atau nggak. Kalo ya, lo harus berdoa lagi supaya film lo masih cukup kinclong untuk menarik perhatian penonton. Kalo nggak, ya lo harus tabah bahwa semua perjuangan lo cuman kelar sampe situ aja. Itulah kenapa lo sering berada dalam posisi ngomongin film Indonesia yang baru dan temen lo nyeletuk, “Hah? Yang mana ya? Kok gue gak tau?” atau “Gak pernah liat gue di bioskop”. Itu karena emang sistem pemutaran film di negara kita sangatlah kejam.
 
Ending
 
Setelah tau ini semua, lo bisa nanya, “Kenapa sih, Can, lo semangat banget nyeritain ini semua?” Simple aja: Gue pengen lo tau kerja keras para pembuat film di Indonesia. Karena bikin film Indonesia itu gak gampang dan kurang dihargai. Dan dengan tulisan ini gue berharap agar lo selalu nonton film Indonesia di bioskop karena cuman lo-lah satu-satunya harapan kita di akhir hari. Dan supaya tiap kali ada temen lo yang mau download film Indonesia (atau nonton di youtube, worse) lo bisa tabok mereka sampe berdarah.